• Nashira
  • Inti dari Kebahagiaan adalah Kumpulan Kebahagiaan dari Hal Hal Kecil.
  • Kebijaksanaan adalah Pemahaman Nilai Nilai Abadi dan Nilai nilai Hidup
  • Mengucapkan Maaf Hanya Mampu Dilakukan Oleh Orang Pemberani
  • Pemenang Bukannya Tak Pernah Gagal, Tetapi Tidak Pernah Menyerah
  • Kekuatan Bukanlah Tentang Memikul Sekuat Tenaga, Tetapi Tentang Ketepatan Sasaran

Kerinduan Yang Tak Berujung

Yaps.. seperti yang kita tahu bahwa seorang anak kecil itu masih begitu polos, begitu jujur bahkan terkadang kejujuran mereka membuat hati siapa saja terenyuh. Mereka juga masih begitu renta dalam menerima hal-hal yang belum sepantasnya mereka rasakan, contohnya adalah sebuah kata ‘kematian’ atau istilah halusnya ‘kehilangan’.
Baru saja saya mendapatkan cerita dari seorang guru SD tentang tingkah anak didiknya. Salah satu ceritanya begini,
Pernah pada suatu hari guru SD tersebut didatangi seorang wali murid yang bingung dengan tingkah anaknya setiap kali ia pulang dari kantor dan
ke kamar anaknya, ia selalu mendapati si anak menangis di atas kasur kamarnya dan memilih untuk tutup mulut saat ditanya ibunya.Nah, sang ibu ini bingung dan bertanya pada gurunya,
“Bu, anak saya kenapa ya setiap kali saya melihat ke kamarnya dia selalu saja menangis, tolong tanyain ya bu, soalnya dia nggak pernah mau jawab kalau saya yang tanya.”
Saat di kelas, sang guru ini bertanya pada si anak.
“Rizky, ibu boleh nanya nggak?”
“Nanya apa bu?” si anak balik bertanya.
“Rizky katanya kalau di rumah sering nangis ya? rizky kenapa nak? cerita sini sama bu guru.”
Namun si anak ini hanya diam. Sang guru pun bingung. Tapi pada akhirnya si anak mau juga menjawab, dan tahukah kalian apa jawaban bocah ini?
“Rizky kangen bapak, bu. Mama kerja terus seharian, kalo hari minggu juga nggak libur kerja terus.Rizky kangen banget sama bapak, bu. Kangen bercanda sama bapak.”
Tahukah kalian bahwa seseorang yang dirindukan anak itu ternyata sudah meninggal. Siapa yang tidak merinding mendengar pernyataan polos seorang anak yang kangen dengan sang bapak yang sudah meninggal? Apa berdosa saat anak itu merindukan bapaknya?

( sungguh, saya menangis mendengar cerita ini.)

Temukan Kami di :  facebook
Read More

Ayah Juga Lupa

Dengar,nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang ikal lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. baru beberapa menit yang lalu, ketika ayah membaca koran di ruangan perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmuu

Ada hal2 yang Ayah pikiran, nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepada mu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi kesekolah karena kau hanya nenyeka muka mu sekilas dengan handuk. Lalu ayah melihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah takkala kau melempar beberapa barang mu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan, kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu buru makananmu, Kau meletakkan sikuamu diatas meja, Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu, dan begitu kau mulai bermain dan Ayah berangkat bekerja, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru "selamat jalan Ayah!!!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "tegakkan bahumu!!!"

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang2 pada kaos kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan2 mu, lalu Ayah menggiringmu untuk pulang kerumah. "Ini Kaus kaki mahal---- dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih ber hati hati!!!" Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikira seorang Ayah....

Apakah kau ingat nak, ketika ayah sedang mengejakan tugas kantor yang Ayah bawa pulag. Bagaimana kau datang dengan perasaa takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang pekerjaan Ayah, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu2 didepan pintu. "KAU MAU APA!!!" semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas, dan melompat kearah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher ayah dan mencium Ayah, tangan2mu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Allah tetapkan untuk mekar dihatimu dan bahkan pengabaian sekalipun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca--- ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak. Bukan berarti Ayah tidak mencinatimu; Ayah lakukan ini karena ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun2 Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begiti banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit2 luas. semua ini kau tunjukan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tau kau tidak akan mengerti hal2 seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan jadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib dengan mu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata2 tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah olah sebuah ritual: "DIA CUMA SEORANG ANAK KECIL--- ANAK KECIL!!!"

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang yang sudah besar. Namun Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidumu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. kemaren kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak........
Read More